Senin, 15 Mei 2017

Hubungan dari teori sastra,kritik dan sejarah sastra



Nama : Mailinda
Npm :1640605038

Pengertian Teori Sastra, Kritik Sastra, dan Sejarah Sastra

1. Teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang prinsip-prinsip, hukum, kategori, kriteria karya sastra yang membedakannya dengan yang bukan sastra. Secara umum yang dimaksud dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati. Teori berisi konsep/ uraian tentang hukum-hukum umum suatu objek ilmu pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu.
Suatu teori dapat dideduksi secara logis dan dicek kebenarannya(diverifikasi) atau dibantah kesahihannya pada objek atau gejala-gejala yang diamati tersebut.

2. Kritik sastra adalah satu cabang ilmu sastra yang menilai tentang baik buruknya, indah tidaknya suatu karya sastra. Istilah lain yang digunakan para pengkaji sastra ialah telaah sastra, kajian sastra, analisis sastra, dan penelitian sastra.
Untuk membuat suatu kritik yang baik, diperlukan kemampuan mengapresiasi sastra, pengalaman yang banyak dalam menelaah, menganalisis, mengulas karya sastra, penguasaan dan pengalaman yang cukup dalam kehidupan yang bersifat nonliterer, serta tentunya penguasaan tentang teori sastra.

3. Sejarah sastra bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu juga Sejarah sastra yaitu satu cabang ilmu sastra yang mempelajari tenang perkembangan sastra sejak awal sampai sekarang.
Di dalamnya dipelajari ciri-ciri karya sastra pada masa tertentu, para sastrawan yang mengisi arena sastra, puncak-puncak karya sastra yang menghiasi dunia sastra, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar masalah sastra. Sebagai suatu kegiatan keilmuan sastra, seorang sejarawan sastra harus mendokumentasikan karya sastra berdasarkan ciri, klasifikasi, gaya, gejala-gejala yang ada, pengaruh yang melatarbelakanginya, karakteristik isi dan tematik.

Hubungan Teori Sastra dengan Kritik Sastra dan Sejarah Sastra.

Dalam konsep sastra ketiga aspek tersebut sangat erat kaitannya, khususnya dalam pembelajaran sastra.
Selanjutnya sejarah sastra yang merupakan kebenaran dari suatu karya sastra, karena jika suatu sastra memiliki sejarah yang jelas dan bukti yang kuat, maka karya sastra tersebut dapat diakui kebenarannya.
Pada hakikatnya, teori sastra membahas secara rinci aspek-aspek yang terdapat di dalam karya sastra baik konvensi bahasa yang meliputi makna, gaya,struktur, pilihan kata, maupun konvensi sastra yang meliputi tema, tokoh, penokohan, alur, latar, dan lainnya yang membangun keutuhan sebuah karya sastra.
Dalam mempelajari sastra kita dituntut mempelajari teori sastra terlebih dahulu, yang mencakup hakikat sastra, unsur sastra, dan penilaian terhadap karya sastra agar kita dapat mempelajari sastra sesuai dengan fakta yang ada dan dapat dituntut secara rasional.
Di sisi lain, kritik sastra merupakan ilmu sastra yang mengkaji, menelaah, mengulas, memberi pertimbangan, serta memberikan penilaian tentang keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra. Sasaran kerja kritikus sastra adalah penulis karya sastra dan sekaligus pembaca karya sastra. Untuk memberikan pertimbangan atas karya sastra kritikus sastra bekerja sesuai dengan konvensi bahasa dan konvensi sastra yang melingkupi karya sastra.

Demikian juga terjadi hubungan antara teori sastra dengan sejarah sastra.

Sejarah sastra adalah bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu,periode ke periode sebagai bagian dari pemahaman terhadap budaya bangsa.Perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu daerah, suatu kebudayaan, diperoleh dari penelitian karya sastra yang dihasilkan para peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan atau persamaan-persamaan Karya sastra pada periode-periode tertentu.Secara keseluruhan dalam pengkajian karya sastra, antara teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra terjalin keterkaitan.

Daftar pustaka :


Senin, 03 April 2017

FONOLOGI




 FONOLOGI
fonologi adalah bagian tata bahasa atau bidang ilmu bahasa yang menganalisis bunyi bahasa secara umum. Istilah fonologi ini berasal dari gabungan dua kata Yunani yaitu phone yang berarti bunyi dan logos yang berarti tatanan, kata, atau ilmu disebut juga tata bunyi. Fonologi terbadi dari dua bagian, yaitu Fonetik dan Fonemik.
Fonetik adalah bagian fonologi yang mempelajari cara menghasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap manusia.
Fonemik adalah bagian fonologi yang mempelajari bunyi ujaran menurut fungsinya sebagai pembeda arti.




FONEM
1.      Fonem /i/
Fonem ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [i] apabila berada pada silabel terbuka atau silabel tak berkoda seperti pada kata [kini], [lidi] dan [sapi]
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [I] apa biala berada pada silabel tertutup atau silabel berkoda seperti pada kata [batIk], [ambIl] dan [lirIk].
2.      Fonem /e/
Fonem /e/ mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan seperti bunyi [e] apa bila berada pada silabel terbuka, seperti pada kata [sate], [p∂te] dan [b∂rabe].
Kedua, direalisasikan seperti bunyi [ε] apa bila berada pada silabel tertutup, seperti pada kata [m כ ñεt], [karεt] dan [εmbεr].
3.      Fonem /a/
Secara umum fonem /a/ direalisasikan sebagai bunyi [a], baik pada posisi awal kata, tengah kata, maupun akhir kata seperti pada kata , dan .
4.      Fonem /ә/
Secara umum direalisasikan sebagai bunyi [∂] seperti pada kata [k∂ra], [∂rat] dan [mar∂t].
5.      Fonem /u/
Fonem /u/ ini mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, dilafalkan sebagai bunyi [u] apa bila berada pada silabel terbuka
Kedua, drealisasikan sebagai bunyi [U] apa bila berada pada silabel tertutup.
6.      Fonem /o/
Fonem ini juga mempunyai dua macam realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [o] apa bila berada pada silabel terbuka.
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [נ] apa bila berada pada silabel tertutup.
KONSONAN
1.      Fonem /b/
Fonem ini memiliki dua realisasi, yaitu:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi /b/ apa bila berada pada awal silabel, baik silabel terbuka maupun silabel tertutup yang buka ditutup oleh fonem konsonan /b/.
2.      Fonem /p/
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [p] baik sebagai onset pada sebuah silabel maupun sebagai koda.
3.      Fonem /n/
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [n], seperti pada kata [nanas],
4.      Fonem /w/
5.      Fonem /f/
6.      Fonem /d/
Fonem ini mempunya dua macam realisasi yaitu sebagai berikut:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [d] apabila berposisi sebagai onset pada sebuah silabel.
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [t] dan [d] bila berposisi sebgai koda pada sebuah silabel.
7.      Fonem /t/
Fonem ini secara umum direalisasikan sebagai bunyi [t], namun perlu dicatat fonem /t/ pada posisi awal bila diberi prefiks me- atau prefiks pe- akan luluh dan bersenyawa dengan bunyi nasal yang homorgan dengan fonem /t/ itu.
8.      Fonem /n/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [n], baik sebagai onset maupun sebagai sebagai koda dalam sebuah silabel.
9.      Fonem /l/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [l] baik sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel.
10.  Fonem /r/
11.  Fonem /z/
12.  Fonem /s/
13.  Fonem /∫/
14.  Fonem /ñ/
15.  Fonem /j/
16.  Fonem /c/
17.  Fonem /y/
18.  Fonem /g/
Fonem ini mempunyai dua macam realisasi yaitu sebagai berikut:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [g] apa bila berposisi sbegai onset.
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [g] atau [k] apabila berposisi sebagai koda
19.  Fonem /k/
Fonem ini memiliki tiga macam realisasi yaitu sebagai berikut:
Pertama, direalisasikan sebagai bunyi [k] apa bila berposisi sebagai onset pada sebuah silabel.
Kedua, direalisasikan sebagai bunyi [?] apabila berposisi sebagai koda pada sebuah silabel.
Ketiga, direalisasikan sebagai bunyi [g] bila berposisi sebagai koda.
20.  Fonem /ŋ/
fonem ini direalisasikan sebagai bunyi bunyi [ŋ] baik berposisi sebagai onset maupun sebagai koda pada sebuah silabel.
21.  Fonem /x/
22.  Fonem /h/
23.  Fonem /?/
Fonem ini direalisasikan sebagai bunyi [?] yang muncul pada:
Pertama, silabel pertama dari sebuah kata yang berupa fonem vokal.
Kedua, diantara dua buah silabel, dimana nuklus silabel pertama dan nuklus silabel kedua berupa fonem vokal yang sama.

DIFTONG
Fonem Diftong
Fonem diftong yang ada dalam bahasa Indonesia adalah fonem diftong /ay/, diftong /aw/ dan diftong /oy/. Ketiganya dapat dibuktikan dengan pasangan minimal.
            /ay/ gulai x gula (gulay x gula)
            /aw/ pulau x pula (pulaw x pul )
            /oi/ sekoi x seka (skoy x seka)